Program Diet Sehat

Akibat Konsumsi Gula Berlebih pada Kesehatan Mental

Sebelum membahas akibat konsumsi gula berlebih, mari lihat dulu konsumsi gula di Indonesia. Pada tahun 2020 konsumsi gula di Indonesia mencapai 27,01 kg per kepala. Jumlah ini diperkirakan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) akan naik pada tahun 2021 menjadi 27,54 kg per kepala. Ini dikarenakan pola konsumsi gula di Indonesia dalam satu dekade terakhir yang terpantau terus meningkat.

Hal yang sama juga terjadi secara global, konsumsi minuman dan makanan manis terus meningkat. Ini juga didukung dengan kemajuan di industri pertanian dan makanan yang memungkinkan produksi gula makin tinggi, sehingga harga gula jadi makin murah, dan semakin mudah pula untuk didapatkan.

Mengapa konsumsi gula jadi perhatian? Apakah ada dampak buruk dari konsumsi gula berlebihan, terutama pada kesehatan mental? Berikut penjelasannya.

Dampak Konsumsi Gula pada Kesehatan Mental

Meningkatkan Risiko Gangguan Suasana Hati

Sebuah studi melakukan kajian untuk memeriksa apakah ada hubungan antara konsumsi gula (makanan dan minuman manis) dengan gangguan suasana hati (mood). Studi ini menemukan bahwa konsumsi makanan dan/atau minuman tinggi gula dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan suasana hati.

Konsumsi gula berlebihan ini bisa mencapai 2-3 kali lipat batas asupan harian yang direkomendasikan.

Studi yang sama juga mencatat bahwa tingginya konsumsi gula bisa meningkatkan risiko gangguan suasana hati atau depresi secara berulang. Asupan gula dapat mempengaruhi kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF atau faktor neurotropik yang diturunkan dari otak), serta peradangan.

Kedua kondisi ini disebutkan berpotensi memicu depresi. Selain itu, hipoglikemia setelah makan serta efek kecanduan gula juga berhubungan dengan mood yang rendah.

Meningkatkan Risiko Depresi

Terdapat studi yang menyebutkan bahwa pasien diabetes tipe 1 dengan kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan kadar neurotransmitter pada otak yang dapat memicu depresi. Temuan ini didukung dengan data bahwa ada 25% orang diabetes juga mengalami depresi.

Tidak hanya orang yang mengalami diabetes saja yang rentan dengan risiko depresi. Bahkan orang yang sehat juga berisiko mengalami depresi jika mengonsumsi makanan dan/atau minuman manis secara berlebihan. Konsumsi gula berlebihan ini bisa memicu lonjakan kadar gula darah, dan membuat insulin juga meningkat tajam. Kondisi ini dapat berujung pada hipoglikemia akut.

Melemahkan Kemampuan untuk Mengatasi Stres

Otak kita membutuhkan 12% lebih banyak energi saat kita sedang stres. Untuk memenuhi  kebutuhan energi itu, tubuh akan membuat kita ngidam sesuatu yang manis. Ini wajar, karena makanan manis (gula) diubah menjadi energi lebih cepat daripada jenis makanan atau minuman lain.

Sayangnya banyak mengonsumsi gula juga dapat meningkatkan keinginan impulsif untuk terus makan. Ini dapat berujung pada konsumsi gula berlebihan yang dapat menyebabkan perubahan pada fungsi otak yang berdampak langsung pada kondisi emosional dan perilaku seseorang.

Konsumsi makanan dan minuman manis dapat memicu efek hormonal yang dapat mengurangi rasa stres. Tapi seperti yang sudah dijelaskan di atas, hal ini juga dapat memicu kebiasaan makan secara emosional. Padahal solusi stres tidak selalu “makan”. Makan hanya memberi efek jangka pendek. Itu sebabnya kemampuan untuk mengatasi stres pun berkurang.

Tips Mengurangi Konsumsi Gula

Melihat dampak konsumsi gula pada kesehatan mental, solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah mulai mengurangi dan membatasi konsumsi gula harian, terutama gula tambahan atau makanan dan minuman olahan tinggi gula. World Health Organization (WHO) memberikan rekomendasi batasan asupan gula dalam sehari.

Kita disarankan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 50 g gula per hari. Ini setara dengan 5-10 sendok teh gula per hari. Kalaupun kita harus membeli makanan atau minuman dalam kemasan, pastikan untukmembaca lagi berapa banyak kandungan gula pada produk tersebut.

Untuk mengurangi konsumsi gula, selain menerapkan batasan di atas, ada beberapa tips yang bisa dicoba. Pertama, sebisa mungkin kurangi konsumsi makanan dan minuman olahan yang hampir bisa dipastikan tinggi kandungan gula. Kedua, jika ingin makan sesuatu yang manis, coba konsumsi buah.

Ketiga, rutin berolahraga. Berolahraga bisa bantu kita memperbaiki mood yang buruk dan mengatasi stres. Dengan begini kita juga bisa memutus lingkaran setan yang membuat kita ingin mengonsumsi makanan atau minuman manis. Mulai berolahraga tidak harus yang berat. Kita bisa coba terapkan program low impact dari GGL dengan intensitas yang lebih ringan.

Itu dia akibat konsumsi gula berlebih pada kesehatan mental. Mulai batasi asupan gula untuk jadi lebih sehat.

Sumber
1. https://sph.umich.edu/pursuit/2019posts/mood-blood-sugar-kujawski.html
2. https://www.ages.at/en/topics/nutrition/who-sugar-recommendations/
3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5532289/
4. https://www.sciencedaily.com/releases/2014/06/140623092011.htm
5. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0149763418308613
6. https://www.scientificamerican.com/article/why-do-we-crave-sweets-when-were-stressed/#:~:text=Under%20acute%20stress%20the%20brain,performed%20poorly%20prior%20to%20eating.
7. https://www.statista.com/statistics/249681/total-consumption-of-sugar-worldwide/
8. https://www.statista.com/statistics/1225567/indonesia-sugar-consumption-per-capita/

Related Posts

Shopping Basket